Leave a comment

Misteri Hilangnya Kunci Rahasia “Blue Diamond”

Murid-murid SMP Nusa Harapan digemparkan oleh peristiwa yang menimpa Prof.Doni, kepala sekolah mereka, yang hampir satu bulan selalu mengurung di ruang kepala sekolah. Semula guru-guru heran, karena ruang kepala sekolah selalu terkunci, dan kabarnya Prof. Doni tidak ada di apartemennya.

Pernah ada kejadian, ketika salah seorang guru mengetuk-ngetuk keras pintu ruang kepala sekolah dan berteriak ‘Apa ada orang di dalam’, tiba-tiba terdengar bentakkan keras dari dalam: “Keluar sana, biarkan aku sendiri..!!”. Sejak saat itu, tak ada satupun guru atau murid yang berani ke sana. Banyak ada isu yang mengatakan bahwa Prof. Doni menjadi gila gara-gara perusahaan di Afrika nya bangkrut, sehingga kekurangan uang untuk membayar sewa apartemennya, ada juga yang mengatakan kalau Prof. Doni sudah tidak ada dan arwahnya gentayangan di ruang kepala sekolah. Namun, isu-isu itu tidak berlaku bagi Ben dan Toni. Sepasang sahabat ini yakin ada kasus yang lebih masuk akal yang mungkin mengganggu Prof. Doni.

Pada malam minggu, ada acara “Tahun Baru di Sekolah” yang hanya diikuti oleh anak-anak kelas satu. Pukul sepuluh malam, saat anak-anak lain sedang asyik bernyanyi diiringi gitar, Ben dan Toni pergi ke toilet di lantai dua, dekat dengan ruang kepala sekolah. Ketika Ben dan Toni sedang berjalan, tiba-tiba mereka melihat sosok besar yang tengah berlari di dekat toilet. Sosok itu hanya terlihat sekilas dan berwarna hitam. Ben dan Toni terkejut. Sosok itu seperti Prof. Doni. Akhirnya mereka masuk ke dalam toilet, dan menyelidiki siapa yang ada di dalam toilet. Ternyata benar! Di dalam toilet, ada sosok tinggi besar yang sedang duduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya yang besar… Prof. Doni!

“Prof…Profesor Doni?! Kenapa anda ada di sini?!” teriak Toni. Prof. Doni kaget bukan kepalang, dan berteriak-teriak seperti orang gila. Setelah Ben dan Toni berhasil menenangkannya, akhirnya Prof. Doni menjelaskan semuanya. Ternyata ia sedang mencari pensil mekaniknya yang hilang. Pensil mekanik? Ben dan Toni kaget bukan kepalang mendenganya – Seorang Profesor frustasi hanya karena kehilangan pensil mekanik?!

”Sebenarnya itu bukan pensil mekanik,” gumam Prof. Doni, ”di dalam pensil itu ada tujuh butir Blue Diamond (berlian biru) kecil yang sangat diperlukan sebagai kode rumah besar-ku di Afrika. Rumah dan keluargaku ada di sana, dan aku sudah pergi dari sana selama dua puluh tahun. Satu-satunya benda yang membuktikan bahwa aku adalah ’Prof. Doni’ adalah Blue Diamond itu. Sebulan yang lalu aku mendapat e-mail, kalau bisnis Diamond-ku di Afrika ada masalah, dan disuruh pulang ke sana. Tapi pensil itu hilang ketika kembali ke ruang-ku, bersama jas ku. Aku frustasi. Tanpa benda itu, istri dan anak-anakku tidak akan mengenaliku. Karena itu aku selalu mengurung diri di ruangku, dan saat malam, aku mencarinya, tapi tidak ditemukan sampai sekarang.”

Ben dan Toni terkejut mendengar itu. Ternyata Kepala Sekolah mereka adalah seorang yang kaya raya!Sesaat mereka hanya berpandangan saja dengan mulut terbuka lebar.

“Ta..Tapi Prof, Bagaimana mungkin keluarga anda tidak mengenali anda?” tanya Ben

“Aku selalu menyamar, Nak. Setiap aku berpindah tempat, aku selalu merubah rambut dan penampilanku.” jawab yang ditanya.

Toni menghela nafas. Ia bergumam pada Ben ,”Prof. Doni bisa jadi gila kalau kita tidak membantunya,” akhirnya mereka berdua membantu mencari pensil mekanik itu. Mereka lalu meminta Prof.Doni untuk menceritakankan apa saja yang ia lakukan sebelum pensil mekaniknya hilang.

”Pertama-tama aku masuk ke ruangku untuk menyimpan jas,” tuturnya. “Lalu pergi ke kelas 3A untuk rapat, setelah itu kembali lagi ke ruangku. Di situlah aku sadar bahwa pensil mekanik bersama jasku hilang. Padahal aku selalu rutin melakukan itu,” jelas Prof. Doni. Mereka ber-tiga segera mencari di ruang kepala sekolah. Ruangan itu berantakan karena sebelumnya Prof.Doni sudah mengobrak-abriknya, tapi tidak ditemukan.

Saat itu, Ben mengamati ruang wakil kepsek yang berada di sebelah ruang kepsek. Ia melihat sebuah botol obat di atas meja, dan Ben teringat sesuatu. Dengan tergesa-gesa mereka pergi ke kelas 3A, tapi sama sekali tidak ditemukan. Prof. Doni berlutut sambil mengeluh panjang. Ia benar-benar putus asa. Namun, Ben tiba-tiba berteriak, ”Aku tahu tempatnya!” lalu ia berlari kencang dan meminta kunci ruang wakil kepala sekolah ke satpam, lalu membuka pintu ruang wakil kepala sekolah. Toni dan Prof. Doni berlari mengikutinya.

Sekonyong-konyong Ben langsung membuka pintu lemari di ruang wakil kepsek. Ia menyambar sebuah jas hitam dan menunjukkannya kepada Prof. Doni. ”Ini kah jas anda, Prof. Doni?”

Prof. Doni tebelalak kaget, ” Ya! Ya! Itu jasku! Oh-Akhirnya ditem..” kata-katanya terhenti. ”I-Ini bukan jas-ku! Di sini tak ada celah kecil untuk menyimpan pensil-ku! Lagipula aku selalu menyimpan obat di sini!” ujar Prof. Doni sambil menggeledah jas itu.

” Itu memang bukan jas anda, tapi itu jas Pak Hartono-wakil kepala sekolah,” kata Toni, ”Ini ’kan ruang wakil kepsek, bukan ruang Anda Prof.”

”Dengarkan. Tadi saya melewati ruang wakil kepsek ini, kebetulan lampunya menyala, dan saya tak sengaja melihat botol kecil terpajang di meja,” ujar Ben sambil menunjuk benda kecil berisi obat tablet di atas meja. Prof. Doni segera menyambarnya, ”Ini-kan obat ku! Kenapa bisa ada di sini?!”

”Itulah yang sempat menjadi pertanyaan. Sebenarnya saya tahu, anda mempunyai kebiasaan menggantungkan jas di gantungan, lalu menyimpan botol obat di meja anda, dan pergi ke luar. Kalau tidak salah, beginilah analisa saya :

Anda datang ke sekolah telat. Karena itu anda terburu-buru masuk ke ruang wakil kepsek, yang dikira adalah ruang anda. Anda menyimpan obat anda di atas meja, lalu menggantungkan jas. Kemudian pergi rapat. Setelah rapat, anda kembali ke ruang anda, dan wajar saja jas dan obat anda tidak ada, karena anda salah masuk ruang saat itu.” jelas Ben.

”Benar juga.” timpal Toni. “Ruang Kepsek dengan ruang wakil kepsek memang hampir sama dan bersebelahan. Lagipula Prof. Doni agak pelupa. Tapi bukannya seharusnya Pak Hartono menyadarinya? Lalu, mengapa jas di gantungan sudah tidak ada?”

”Sebulan yang lalu, saya ingat bahwa saya pergi ke toilet ketika jam pelajaran pertama,” kata Ben. “dan melihat Pak Hartono terburu-buru pergi sambil mengenakan jas hitam. Mungkin saja karena beliau terburu-buru, beliau mengenakan jas yang menggantung yang sebenarnya milik Prof.Doni, dan tak menyadari bahwa ada botol obat di meja-nya. Dan mungkin sekarang jas-nya ada pada Pak Hartono yang sudah cuti sebulan lalu,”

Prof. Doni tercengang ketika mendengar penjelasan dari Ben. Ia lalu mengambil HP-nya dan menghubungi Pak Hartono. Tiba-tiba di luar terdengar suara kembang api disertai teriakan anak-anak dan bunyi terompet. Ben dan Toni melangkah cepat, menghampiri jendela sambil melihat ke luar. Di sana tampak puluhan kembang api berwarna-warni menghiasi angkasa.

”Tak terasa sudah pukul dua belas malam! Selamat tahun baru, Ben!” kata Toni.

Ben tersenyum, ”Ya! Selamat tahun baru juga,”, mereka lalu berjabat tangan.

Masalah Prof. Doni sudah terpecahkan. Dan memang jas nya ada pada Pak Hartono. Beliau pun heran karena ada pensil mekanik di jas-nya, dan baru menyadari bahwa itu milik Prof. Doni. Begitu kata Prof. Doni saat berbicara dengan Pak Hartono di HP. Pak Hartono mengatakan, ia akan segera mengembalikannya esok hari. Prof. Doni sangat senang, dan berulang kali menepuk-nepuk punggung Ben dan Toni sambil berkata, ”Terimakasih! Kalian kelak akan menjadi detektif yang cerdik”.

Ben dan Toni segera turun ke lapangan, menikmati pesta tahun baru sambil melahap sate bersama teman-temannya. Toni berbisik kepada Ben, ”Profesor itu memang pelupa, ya!” keduanya lalu tertawa terbahak-bahak. Sementara Prof. Doni diam-diam pergi keluar dan pulang ke apartemen.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: