Leave a comment

Jam 12 Lebih 12 Menit

Tinggal di sebuah kampung terpencil yang hanya ada 3 rumah. Siapa lagi kalau bukan aku. Tetanggaku namanya pak Sono. Dulu, dia memiliki seorang anak yang bernama Sisi. Tetapi, kata ayahku dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Menurutku pak Sono orangnya ramah, baik hati, dan dermawan. Di depan rumahku terdapat sebuah rumah kosong sudah tidak terpakai lagi. Pemiliknya sudah meninggal sekitar  1 tahun yang lalu. Penyebabnya aku kurang tahu. Beberapa hari kemudian, seorang produser film datang ke kampung kami. Dia ingin melakukan syuting film horror di rumah kosong tersebut. Berbondong-bondong mereka langsung menyiapkan segala keperluan yang nantinya digunakan untuk syuting. Karena ingin film nya lebih nyata, dia melakukan syuting tepat pukul 12 malam.

Jam rumahku berbunyi tanda dimulainya tengah malam. Ayahku sudah tertidur lelap. Dari jendela aku megintip pelaksanaan syuting film itu. Sebelum dimulai, entah mataku atau karena aku mengantuk, rasanya aku melihat sesosok banyangan putih dengat cepat melintasi jendela rumah depanku itu. “ah… mungkin itu hanya halusinasiku” firasatku berkata. Beberapa menit setelah itu, tepatnya padak pukul 12 malam lebih 12 menit, salah seorang aktris dari film itu menjerit dan seketika mati. Langsung aku membuka kuncian rumahku dan langsung memastikan apa yang kulihat dan yang kudengar ini bukan halusinasiku. “ ahhh….” Setengah mejerit aku benar-benar tidak percaya dengan kejadian ini. Rencananya, aku ingin menyelidiki. Aku merasa ada yang tidak beres dengan kejadian ini.dengan tidak sengaja, aku mengintip ke rumah pak Sono. “ apa ini?” sebuah cairan merah yang menempel di pagar rumah pak Sono. Tiba-tiba “ oy… tidur!!” ayahku mengagetkan ku dengan nada sedikit marah. “baik yah…..” jawabku dengan mata setengah tertutup alias ngantuk.

Paginya, tepatnya sepulang sekolah, aku mengajak teman-teman ku. Mereka adalah Aceng, Tomo, dan Bagas. Bukan sekedar teman menurutku. Dia adalah sahabatku dulu ketika aku masih tinggal bersama kakekku. Aku mengajak mereka untuk menyelidiki kasus kematian sang aktris dari film horror kemarin malam. Kami masuk rumah itu.  Suasananya sangat kotor, penuh dengan debu, dan kumuh. Tiba-tiba, Bagas menemukan sebuah kertas yang berdebu yang berada di bawah meja. “Apa ini”, Kata Bagas sambil menggaruk-garuk kepalanya. Saat kami mulai membacanya, kami dikejutkan oleh sebuah gadis cantik. “Hai, apa yang kalian lakukan disini?”, kata gadis itu dengan suara yang cantik. “Wah, sronoknya gadis ni”, kata Aceng yang sedang tergila-gila dengan gadis itu. “Namamu siapa?”, tanyaku padanya. “ Namaku Tanti, dan apa tujuan kalian kesisni?” tanya gadis itu pada kita. “Ohh…. Kami sedang menyelidiki kasus kematian salah seorang aktris yang sedang bermain film horror di tempat ini” jawab Bagas dengan setengah menggoda gadis itu. “kalian harus segera keluar dari sini, tempat ini sangat berbahaya bagi kalian….”, kata si Tanti. “ apa maksudmu??” tanyaku padanya. “Sudahlah, kalian tidak perlu tau, sekarang cepat tinggalkan tempat ini” kata sang gadis dengan nada sedikit tinggi. “Oke-oke kami akan pergi…..” kataku sambil bergegas keluar dari rumah ini.

Sesampainya di luar, aku pun baru ingat bahwa aku lupa untuk mengambil kertas itu. “ Ahh…. Mengapa kalian tidak mengingatkanku untuk mengambil kertas tadi??” Kataku sedikit marah. Tiba-tiba, Bagas menjawab “ Kertas yang mana? Yang ini?” Kata Bagas sambil tertawa. Aku merasa malu dengan teman-temaku. Yang terpenting, aku harus segera membaca isi kertas itu. Di dalam kertas itu terdapat beberapa kalimat yang bertulis “ maafkan aku. aku tidak Sengaja melakukan semua Ini. Kuharap kamu biSa memaafkan atas semua kesalahanku Ini. “ . “Apa maksud dari tulisan ini ya? Mungkinkah ini sebuah teka-teki?”. Kataku sambil merenung. “Ahh… aku tau sekarang” Tomo yang dari tadi diam, tiba-tiba langsung menyaut. “apa maksudmu tom”. Kataku pada Tomo. “ Iya nih…” Kata teman-temanku. “ ingatkah kalian pada peristiwa kematian sang aktris” Kata Tomo dengan serius. “ ya…. teruss?” kubalas dengan pertanyaan. “ ahh.. masa’ kalian masih belum paham juga sih?” Kata Tomo yang makin kelihatan serius. “ Oh….. aku tau maksudmu tom. Jam 12.12 bukan?” Kataku pada Tomo. “ nah… itu paham” Kata Tomo kepadaku. “ maksud kalian apa sih? Aku masih belum mengerti ni…” kata Aceng dan Bagas pada ku dan Tomo. “ Begini-begini. Kematian aktris itu kan pada pukul 12 lebih 12 menit. Coba kalian balik pasti akan membentuk seperti SISI” Jelasku pada Bagas dan Aceng. “ wah, ternyata otakmu encer juga Tom” Kata Bagas. “ Iya nih….” Sahut Aceng. “Ceng ceng, bisamu Cuma bilang iya-iya aja” Kata Tomo yang sedang menggoda Aceng. “ Sudah-sudah…. Yang terpenting, pasti semua ini bukan suatu kebetulan. Oh ya, ngomong-ngomong, coba kita bersihkan kertas ini. Pasti ada petunjuk lain dari kertas ini. Saat kami mulai menyuci bagian belakang kertas. Tiba-tiba, kami menemukan cairan merah sedang menempel di balik kertas itu. Sempat aku bingung dengan semua ini. Tetapi, untungnya aku langasung ingat dengan cairan merah yang ada di rumah pak Sono. “ cairan ini, sama persis dengan cairan yang ada di rumah pak Sono” Kataku sedikit tidak yakin. “ahh…. Masa’ sih?” balas Tomo.  “iya. Aku lihat sendiri cairan ini di rumah pak Sono. Kalau tidak percaya, ayo kita lihat bersama-sama, oke?” kataku dengan percaya diri. “oke” kata Bagas. Namun, karena hari sudah mulai larut malam, mereka melanjutkannya besok.

“Kriiiing….. kriiiing….”. alarm jam weeker ku berbunyi. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12 malam. Oh ya, baru aku ingat kalau aku belum merubah alarm nya. Aku pun terbangun. Tiba-tiba, dari luar ada suara “Braak…!!” . “Apa itu!!”. kataku sambil kaget. Aku pun langsung keluar. “Ahh…!!” kataku sambil kaget melihat sebuah pisau jatuh di jalan depan rumah pak Sono.karena merasa curiga, aku pun mengetuk rumah pak Sono. Tapi, tidak suara di dalam rumah itu. Merasa belum puas, aku pun masuk ke rumah kosong. Kulihat sekeliling rumah sangat sepi. Tiba-tiba, ada yang menyekapku dari belakang. Saat aku menoleh ke belakang, ternyata dia adalah pak Sono. “Siapa saja yang mengetahui rahasiaku HARUS MATI!!!” kata pak Sono yang sedang sangat marah. “Ahh….” Aku pun memejamkan mataku. Tiba-tiba “ Dor…..” kulihat dibelakangku ada seorang polisi bersama sang produser. “menyerahlah, kamu udah kami kepung!!”. Kata salah seorang polisi. “jangan bergerak selangkah pun atau anak ini akan mati!!!”, balas pak Sono. Tiba-tiba, polisi langsung menembak ke arah tangan pak Sono. “ah…. Tanganku”, Teriak pak Sono dan langsung menjatuhkan pisaunya. Akhirnya pak Sono pun tertangkap. Sesuai dugaanku, pelaku di balik semua ini adalah pak Sono. Tetapi, aku masih belum tau, seperti apakah jalan ceritanya. Lalu, aku memberanikan diri untuk bertanya pada polisi. Kiranya, polisi tau akan permasalahanya. “pak, bagaimaa sih jalan ceritanya dari awal sampai        akhir?”, tanyaku dengan serius.  “ begini dek, kamu pasti tau kan, cairan merah yang ada dirumah pak Sono?” jawab pak polisi padaku. “iya” balasku padanya. “itu adalah sebuah lem yang digunakan untuk merekatkan si kertas pada pagar rumah pak Sono. Agar tidak lama-lama, langsung saja aku jelaskan intinya. Saat itu, Sisi, anak pak Sono sedang berkunjung ke rumah pak John yang saat itu masih tinggal di rumah ini” jelas pak polisi sambil menunjuk rumah kosong. “terus?” tanyaku pada pak polisi sambil bingung. “Sisi berkunjung ke rumah pak John sambil menangis. Penyebabnya adalah Sisi selalu dimarahi oleh ayahnya yaitu pak Sono. Merasa stress, ia lalu berkunjung ke rumah pak John yang biasanya menjadi teman curhatnya. Saat pak John menuju ke dapur, tiba-tiba suara kursi yang bergeser terdengar diikuti dengan sebuah teriakan. Merasa kaget, pak John langsung mencari dimana sumber bunyinya itu. Ternyata di gudang, dilihatnya Sisi dalam posisi gantung diri. Pak John pun merasa sangat bersalah. Lalu dia pun mengatakan hal ini pada pak Sono. Pak Sono pun sangat terpukul dengan kejadian itu. Pukul 12 malam, pak John menuliskan surat yang pastinya kamu tahu kan?” jelas pak polisi. “maksud bapak surat ini?”, kataku sambil membawa kertas tua. “ya, itu benar. Setelah selesai menulis, dia menempelkanya di pagar rumah pak Sono dengan lem bewarna merah. 12 menit kemudian, atau tepatnya jam 12 lebih 12 menit, pak Sono langsung menyelinap ke rumah pak John. Lalu, menuju kamarnya dan membunuhnya. Peristiwa ini sangat cepat sekali. Pak Sono langsung menguburnya di balik rumah pak John sendiri.” Jelas pak polisi panjang lebar. “oh….. jadi begitu, lalu saat itu aku pernah bertemu seorang gadis cantik di rumah ini, bisakah anda menjelaskan semua ini?” tanyaku lagi pada pak polisi. “menurutku, itu adalah jelmaan dari Sisi.”, kata pak polisi sambil menahan tawa. “ahhh….. gak bener nih….” Balasku padanya. “hahahahaha” tawa pak polisi.

Besoknya, aku kembali bersekolah. Aku menemui sahabat-sahabatku yang saat itu sedang membantuku menyelediki kejadian kemarin. “eh… asik lo, ternyata pelaku di balik semua ini adalah tetanggaku sendiri, pak Sono. Banyak polisi yang datang di kampungku lho tadi malam….” jelasku pada mereka dengan serius. “ahh…. Coba’ kalau gak ada polisi, pasti aku lah yang aka mengungkap masalah ini” jelas Tomo dengan gaya seperti detektif. “hahahahahaha” kami pun tertawa bersama dengan gurauan si Tomo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: